Sabtu, 10 September 2016

Jalan - Jalan di Jogja, Indonesia

Jogja memang tidak ada habisnya untuk dibahas. Belum beres mengunjungi satu tempat, sudah bermunculan tempat hits lainnya. Apalagi di tengah demam film AADC-2, makin tenar saja pamor Jogja.

Untuk bisa jalan-jalan di Jogja tidak melulu harus menunggu libur panjang. Cukup mengambil cuti di hari Jumat, kami yang notabene pegawai kantoran dengan jatah cuti terbatas sudah bisa menikmati kota Jogja sampai puas.

Dari Jakarta kami naik kereta tujuan Gambir-Stasiun Tugu pukul 20.45. Harga tiket keretanya memang tidak berbeda jauh dengan harga tiket pesawat kalau sedang promo. Tapi enaknya naik kereta malam bisa sekalian menghemat ongkos penginapan 1 malam dan ditambah siangnya bisa kerja dulu. Beres pulang kantor tinggal langsung meluncur ke Stasiun Gambir.


Kami tiba di Jogja sekitar pukul 5 pagi. Untungnya mobil sewaan kami sudah diparkir di depan Stasiun Tugu dan langsung kami pakai pergi menuju Kebun Buah Mangunan untuk melihat sunrise. Sayangnya semalaman Jogja diguyur hujan lebat sehingga pemandangan dari view point di Mangunan tertutup kabut tebal. Padahal kalau sedang tidak kabutan, pemandangan indah dengan latar Sungai Oyo bisa terlihat jelas.


 

Tidak jauh dari Mangunan, terdapat kawasan Hutan Pinus Imogiri yang masih asri dan alami. Tanpa pikir panjang, langsung kami sambangi

  

Dari Imogiri, kami lalu pergi menuju Pantai Timang yang letaknya jauh di ujung timur Jogja. Hampir 2 jam lamanya kami berkendara tanpa henti. Tapi begitu sampai, kami langsung disambut keindahan pesona pantai selatan Pulau Jawa. Pasir pantai putih halus bak bedak bayi serta gradasi biru laut yang memukau. Tidak sia-sia rasanya harus repot-repot kesana. Apalagi pantainya juga sepi jadi benar-benar berasa pantai pribadi.


Tapi sebetulnya bukan pantainya yang menjadi alasan utama kami kesana, melainkan sebuah godola kayu yang membentang dari daratan utama menuju Pulau Timang. Gondola tersebut berjalan di atas rel terbuat dari tali tambang, bukan dari besi dan baja. Pengoperasiannya juga masih dilakukan secara manual. Ditarik manual menggunakan tangan oleh 6-7 orang.



Setelah puas bermain di Pantai Timang, kami kembali ke Kota Jogja kemudian pergi menuju Abhayagiri. Sebuah restoran di pinggir tebing dengan pemandangan langsung Candi Prambanan di kejauhan. Cocok untuk nongkrong bareng atau sekedar woles-woles bersama teman.

 

 


Menjelang matahari terbenam, barulah kami pergi menuju Candi Ratu Boko yang terletak tak jauh dari Abhayagiri. Tidak sampai 30 menit, kami sudah tiba di gerbang candi berlatarkan langit senja keemasan. Kami berada disana cukup lama hingga matahari benar-benar hilang di peraduannya.



Saat hari berganti malam, tanda kami harus segera menuju hotel untuk beristirahat. Kami menginap di Green House Hotel daerah Prawirotaman yang pernah dipakai sebagai the official venue film AADC-2. Selain menggusung konsep eco-friendly hotel, keunikan lainnya ada pada rooftop-nya yang disulap menjadi rumah kaca hidroponik dan sebuah interaktif bar. Sedangkan kolam renang outdoornya dijamin bikin Instagram kamu bahagia.



Keesokan harinya, kami memulai hari pagi-pagi sekali demi mengejar sunrise di Punthuk Setumbu. Lagi-lagi pemilihan tempat ini didasarkan karena menjadi salah satu lokasi syuting film AADC-2. Tempatnya berada di Magelang jadi mesti berangkat paling lambat pukul 4 pagi dari Jogja.

Sampai di Punthuk Setumbu, perjalanan masih harus dilanjut dengan hiking menuju view point di atas bukit. Cukup melelahkan memang pendakian yang mesti dilakukan tapi itu semua setimpal dengan pemandangan matahari terbit berlatar Gunung Merbabu dan Gunung Merapi berselimut kabut tipis, juga siluet Candi Borobudur di kejauhan.


Kalau sudah di Punthuk Setumbu, rugi rasanya kalau tidak sekalian mampir ke Candi Borobudur karena jaraknya memang hanya sepelemparan batu. Candi Budha terbesar tersebut tetap mempesona walaupun sudah berulang kali kami kunjungi.


Dari Borobudur, kami kembali ke arah Kota Jogja untuk setelahnya pergi menuju Kalibiru. Tapi sebelumnya kami mampir sebentar di Taman Sari Water Castle yang terletak di jantung Kota Jogja. Dulunya tempat ini dipakai sebagi tempat pemandian dan bersantai Keluarga Raja namun sekarang lokasinya sudah campur aduk dengan perkampungan warga sehingga sulit mencari bangunan lain seperti Masjid Bawah Tanahnya yang terkenal.



Tidak berlama-lama kami tersesat dalam kesesatan labirin di Taman Sari. Kami segera memacu mobil menuju Kalibiru di Kulon Progo atau sekitar 1.5 jam berkendara dari pusat kota. Kalau mau kesana lebih baik jangan pakai mobil atau motor matic soalnya sekitar 1 km menuju lokasi jalanannya berupa tanjakan terjal dan berliku. Alternatifnya mobil dan motor bisa diparkir dekat pintu masuk lalu sewa ojek untuk naik ke atas.

Untuk mendapatkan foto-foto instagramable, ada 3 pos foto yang bisa digunakan dengan latar Waduk Sermo. Tarifnya 10rb untuk pengambilan foto selama 5 menit. Kalau datang sendiri, jangan khawatir karena mas-mas disana bisa bantu ambil foto dan mereka juga sudah paham angle serta cara pakai smartphone atau kamera DSLR.


Setelah mendapatkan beberapa foto ala Instagram, kami kembali lagi ke kota Jogja untuk kemudian mampir ke alun-alun kota sembari mencicipi kelezatan mie godognya yang tersohor. Juga sekalian menyambangi beberapa angkringan dekat Stasiun Tugu.



Keesokan harinya merupakan hari terakhir kami berada di Jogja. Kami sudah memesan tiket pesawat di siang hari sehingga tidak banyak aktifitas yang kami lakukan selain mengunjungi Candi Prambanan. Karena memang lokasinya dekat Bandara Adi Sucipto.


Di Candi Prambangan, lagi-lagi kami dibuat takjub dengan kemegahan arsitektur dan relief candi yang rumit. Entah ini kali keberapa kami kesana tetapi kami tetap terpesona dengan keindahan kompleks Candi Prambanan. Bahkan sempat-sempatnya kami menumpang shuttle bus gratis menuju Candi Plaosan dan Candi Sojiwan yang terletak tidak jauh dari Candi Prambanan.

 


Dan berakhirnya kunjungan kami di di Candi Prambanan menandakan juga akhir perjalanan kami di Kota Jogja. Suatu perjalanan yang kembali mengingatkan kami betapa kayanya ragam budaya Nusantara serta indahnya pesona alam Indonesia. Jogja memang istimewa.


@williamkellye

Tidak ada komentar:

Posting Komentar