Jumat, 26 April 2019

Jalan - Jalan di Brunei Darussalam (Solo Traveling)

Kalau bukan karena bucketlist mengunjungi 10 negara ASEAN, mungkin saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di Brunei Darussalam. Berhubung lagi promo free seat Airasia dan kehabisan ide mau kemana yang murah untuk weekend getaway, maka dipilihlah Brunei Darussalam. Berangkat Jumat malam sehabis ngantor, pulang Minggu sore. Tiket Jakarta-KL seharga Rp. 325,000 PP ditambah KL-Brunei seharga Rp. 755,000. Total sejutaan sudah sampai Brunei! Thanks Airasia, now everyone can fly (with affordable price)
.
Saat berkunjung ke Brunei sejujurnya saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa. Informasi wisata dan blog2 tentang negara ini juga kurang banyak beredar di internet. Akhirnya saya putuskan hanya untuk keliling downtown-nya saja karena malas browsing terlalu detail. Sempat kepikiran sih untuk daytrip ke the Empire Hotel and Country Club yang konon katanya hotel paling keren di Brunei. Cuman sayangnya kejauhan dan tidak yakin ada publik transportasi kesana. Sempat kepikiran juga buat ikutan paket one day tour ke Ulu Temburong tapi sepertinya tidak cukup waktu karena saya hanya sekejap di Brunei. Alhasil 2 hari di Brunei saya habiskan muter-muter di pusat kotanya saja dan saya cukup puas dengan keputusan ini
.
Where to Stay in Brunei?
Entah mengapa harga hotel-hotel di Brunei mahal-mahal. Apalagi yang di daerah downtown, hampir 1 jt-an harganya. Akhirnya saya memilih menginap di hostel daerah Gadong karena malas keluar duit segitu banyak. Secara saya lagi solo traveling jadi tidak ada teman untuk sharing cost.

Lucunya saya hanya menemukan 2 hostel di seantero Brunei. Saya pilih menginap di Co. Living hostel. Harga per malamnya Rp. 150,000 untuk 1 kamar isi 4 bed, sudah termasuk free breakfast. Lokasinya memang bukan persis di pusat kota (downtown Bandar). Tapi paling tidak, hostel ini sudah dilalui rute bus umum sehingga gampang kemana-mana. Overall B aja nilainya.
.
Transportasi di Brunei?
Kemana-mana saya naik bus umum. Dari airport ke hostel. Dari hostel ke downtown Bandar. Rutenya sudah menjangkau mana-mana dengan waktu tunggu 15-30 menit.
.
Bus di Brunei berukuran tanggung, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Yang pasti tidak sebesar metromini atau bus pada umumnya. Sedikit lebih panjang dari minivan. Seluruh busnya sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan dan seorang kenek perempuan. Jauh-dekat $1 Brunei.
.
Sayangnya bus di Brunei tidak beroperasi 24 jam. Pukul 5 sore sudah jarang ada bus. Pukul 6 malam sudah tidak ada lagi. Solusinya naik taksi yang tarifnya mahal banget.
.
Where to go in Brunei?
1. Omar Ali Saifuddien Mosque
2. Royal Regalia Museum
3. Kampong Ayer
4. Jame Asr Sultan Hassanal Bolkiah Mosque
5. Ulu Temburong National Park (daytrip)
6. The Empire Hotel & Country Club (daytrip)

Kebanyakan objek wisatanya berada di daerah downtown Bandar. Cukup naik bus hingga terminal bus Bandar, lalu dilanjut jalan kaki keliling kota.
.
Brunei bukanlah negara yang besar. Saking kecilnya, hanya ada 2 mall beken disana. Gadong Mall dan Yayasan Mall yang dua-duanya tidak terlalu besar dan isinya kurang lengkap. Masih bagusan Blok-M Mall bahkan.
.
Kalau kebetulan main ke Brunei hari Sabtu, jangan lewatkan untuk mengunjungi night street marketnya di depan Omar Ali Saifuddien Mosque. Hanya buka malam minggu, berisi aneka kios dadakan yang rata-rata menjual makanan jalanan.

Kalau ke Brunei untuk mencari hiburan malam/night club, lupakan! Karena hal tersebut tidak ada di Brunei. Begitu pula alkohol yang ternyata dilarang diperjual belikan.
.
Summary
Karena traveling kali ini tidak memiliki ekspektasi apa-apa, saya ternyata senang-senang saja saat berada di Brunei. Kotanya tenang, tidak ada kemacetan yang berarti, kemana-mana dekat bisa jalan kaki. Karena kotanya teratur dan tidak semrawut saya malah jadi merasa refreshed dan recharged setelah berkunjung kesana. Jadi menurut saya kalau ada negara yang cocok untuk destinasi weekend getaway, Brunei jawabannya!
Negara loh ya, bukan kota.

Kamis, 25 April 2019

Jalan - Jalan di Phuket, Thailand (Solo Traveling)

Sebagai seorang yang moody, kondisi cuaca ternyata berpengaruh terhadap suasana hati ketika jalan-jalan. Saat cuaca cerah, hati jadi riang gembira. Namun sebaliknya saat cuaca tidak bersahabat, hati jadi ikut-ikutan tidak bersemangat. Seperti saat saya solo traveling di Phuket, Thailand. Jadwal yang sudah susah payah dibuat seketika menjadi kacau balau karena cuaca buruk.

Tergiur kombinasi tiket free seat Jakarta-Kuala Lumpur dan tiket promo Kuala Lumpur-Phuket, tanpa pikir panjang langsung sikat. Dalam sekejap saya sudah mengantongi tiket Jakarta-Phuket via Kuala Lumpur seharga Rp. 1.570.000 PP, untuk keberangkatan di tanggal 17 Agustus 2018, yang bertepatan juga dengan long weekend. Sungguh pembelian yang menguntungkan. Kapan lagi bisa jalan-jalan di peak season dengan harga 1.5 jutaan, untuk 4x penerbangan, ke luar negeri pula.

Selain iming-iming tiket murah, alasan lainnya saya belum pernah ke Phuket. Lagipula kotanya kecil jadi 3 hari rasanya cukup untuk jalan-jalan disana. Dan katanya pantai di Phuket cantik serta banyak terdapat bukit-bukit karst spektakuler seperti di Raja Ampat. Katanya loh ya! Makanya saya tidak banyak berpikir saat membeli tiket ke Phuket. Disana mau kemana dan melakukan apa, itu urusan nanti.

Barulah 1 minggu sebelum keberangkatan saya sibuk browsing akomodasi, transportasi, dan aktivitas selama di Phuket. Karena hanya punya waktu 3 hari di Phuket maka hanya di hari Sabtu saya punya waktu seharian untuk jalan-jalan. Sementara hari Jumat dan Minggu akan dipakai untuk traveling day. Maka dari itu saya memesan paket one day tour island hopping di hari Sabtu. Lalu mengeksplor daerah downtown Phuket di hari Minggunya selama setengah hari sebelum kembali ke Jakarta.

Untuk akomodasi saya menginap di Slumber Party Phuket Hostel. Lokasinya super strategis, hanya 5 menit jalan kaki ke Bangla Road. Hostel ini juga mengklaim sebagai "Party Hostel" yang artinya penghuninya sebagian besar anak muda atau paling tidak berjiwa muda karena doyan party. Review di hostelworld juga mencapai ribuan, artinya hostel ini menjadi hostel favorit banyak orang saat berkunjung ke Phuket. Jadi saya tidak membaca benar-benar masing-masing review pengunjungnya. Ekspektasi saya, hostel ini memberikan servis standar layaknya hostel-hostel yang pernah saya datangi seperti pemesanan paket one day tour atau pemesanan taksi ke bandara.
.
Itinary sudah dibuat, hostel sudah di booking, tiket pesawat sudah dipesan, dan baht sudah dibeli. Semua nampaknya berjalan sesuai rencana. Namun bencana itu datang saat saya iseng-iseng mengecek ramalan cuaca di Phuket. Alangkah terkejutnya saya setelah mengetahui kalau hampir setiap hari di Bulan Agustus Phuket selalu diguyur hujan. Berbeda dengan Indonesia dimana Bulan Agustus puncak musim kemarau. Di Phuket, kebalikannya. Agustus merupakan puncak monsoon season/musim hujan. Jadwal rencana jalan-jalan di Phuket terancam jadi berantakan karena cuaca buruk. Malah hampir seluruh aktivitas selama di Phuket bakalan aktivitas di luar ruangan seperti island hopping atau city tour di downtown Phuket.

Tapi the show must go on. Tiket promo ini tidak bisa di reschedule. Sambil banyak-banyak berdoa, saya tetap berangkat ke Phuket di pertengahan Bulan Agustus 2018. Sayangnya doa saya tidak terkabul. Begitu pesawat mendarat di Phuket International Airport, hujan sudah turun dengan derasnya. Bahkan hingga check in di hostel, hujan tetap turun deras tanpa ampun.
.
Sialnya Slumber Party Phuket Hostel ini servisnya kacrut tidak sesuai ekspektasi. Mbak-mbak resepsionis jutek, tidak informatif, dan menjawab pertanyaan standar saya dengan ogah-ogahan. Bahkan tidak mau membantu pemesanan paket one day tour island hopping di keesokan harinya dengan alasan sudah malam dan tour travel sudah tutup.

Saking kesalnya saya jadi hujan-hujanan mencari travel agent di pinggir jalan untuk memesan paket one day tour island hopping untuk besokSetelah keluar masuk kantor travel agent, membandingkan harga satu agent dengan agent lainnya, dapatlah satu paket tour dengan harga masuk akal. Sekitar USD 35 yang mencakup penjemputan dari hostel, slow boat, makan siang, tour guide, dan mengunjungi 3 tempat populer di Phuket termasuk James Bond Island yang terkenal.

Besok paginya saya dijemput naik van pukul 7 pagi. Pagi itu cuaca cukup mendung dan langit kelabu. Bahkan matahari tidak tampak. Sungguh awal yang buruk.

Dari Phuket saya lalu diantar menuju suatu dermaga untuk kemudian naik slow boat mengelilingi gugusan kepulauan di sekitar Phuket. Mungkin pada saat the best season, pemandangan di sepanjang jalan bakal spektakuler. Perairan hijau toska, bukit-bukit karst, langit biru cerah tanpa awan, mirip seperti iklan pariwisata di Phuket. Namun hari itu pemandangan kurang maksimal. Langit kelabu, hujan gerimis, dan air laut yang terlihat keruh dan butek.

Saya pikir kunjungan ke James Bond Island akan sedikit membuat mood saya lebih baik. Karena tour guide berulang kali meyakinkan saya kalau James Bond Island is very very beautiful. Sayangnya James Bond Island ini tidak sesuai iklannya. Pulaunya biasa saja. Pasir pantainya coklat, airnya butek, dan luar biasa ramai. Malah kami cuman diberi waktu 30 menit disini, makin bete saja saya. Gimana bisa enjoy coba kalau diburu-buru begini?
.
Dari James Bond Island kapal menuju suatu lokasi yang dikelilingi banyak sekali bukit karst. Disana kami naik kano melewati pinggir bukit karst serta keluar masuk beberapa goa. Lumayan seru. Dan menurut saya inilah highlight dari trip kali ini. Walaupun B aja. Tidak bagus-bagus amat.



Selesai naik kano, kapal kemudian beralih ke destinasi terakhir. Sebuah pulau kecil dimana kami akan menghabiskan sore hari sembari menonton sunset. Karena hujan rintik-rintik tidak kunjung berhenti, tidak ada sunset sore itu. Bahkan mataharinya tidak muncul ketutupan awan. Saya cuman duduk-duduk di pulau itu sambil minum es kelapa.
.
Beres santai-santai di pulau, kapal kembali menuju dermaga dan kami pun diantar balik naik van ke penginapan masing-masing. Overall, ini adalah one day trip saya yang paling tidak berkesan. Sudah destinasinya biasa saja, harganya mahal, lunch-nya jauh dari kata enak, dan diperparah cuaca buruk.
.
Malamnya karena tiba-tiba hujan sudah reda, saya jadi bisa jalan-jalan menikmati malam di Bangla Road yang terkenal. Bisa dibilang ini adalah jalanan paling hits seantero Phuket. Semakin malam justru jalanan ini semakin ramai. Ada bar, club, restoran, serta beragam pertunjukan orang dewasa yang "aneh-aneh". Tidak akan pernah bosan menikmati malam di Bangla Road.
.
Besoknya sesuai rencana saya akan setengah hari city tour secara mandiri di downtown Phuket. Saya kesana naik bus umum yang harganya murah meriah. Sayangnya baru jalan-jalan sebentar di downtown Phuket yang di kelilingi bangunan-bangunan bersejarah, hujan lagi-lagi turun dengan derasnya sampai baju saya basah sah. Karena mood jadi berantakan, saya kembali lagi ke Bangla Road dan mencari shopping mall untuk berteduh sembari menunggu jam pesawat balik ke Jakarta.

Ternyata tidak semua trip selalu berisi cerita yang indah-indah. Kali ini, saya sial di Phuket!

Rabu, 24 April 2019

10 Jam Transit di KLIA, Malaysia

Pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di KLIA pukul 6 pagi. Padahal saya baru memiliki penerbangan lanjutan ke Jakarta pukul 12.30 siang.  Artinya ada sekitar 6 jam lebih waktu transit di KLIA.

Daripada bosan di airport saya berpikir keras mau pergi kemana dalam waktu tanggung begini. Ke Kuala Lumpur kok kejauhan. Naik bus saja perlu 1 jam. Lagipula pagi-pagi begini toko-toko masih pada tutup. Dan saya sudah pernah ke semua tempat touristy di Kuala Lumpur jadi agak malas rasanya harus mengulang untuk kedua kalinya.
.
Di tengah kegalauan tercetuslah ide untuk jalan-jalan ke Putrajaya. Kota pemerintahan Malaysia yang lokasinya berada di antara Kuala Lumpur dan KLIA. Dari airport naik kereta 20 menit juga sampai. Maka saya bergegas menuju stasiun kereta dan membeli tiket tujuan ke Putrajaya seharga RM 9.4 sekali jalan.
.
Tiba di terminal Putrajaya, saya beruntung karena sudah ada bus umum tujuan Masjid Putra yang mau berangkat. Katanya bus tujuan Masjid Putra ini lumayan langka dan tidak tentu jadwal keberangkatannya. Jadi pas turun kereta sudah ada bus yang siap berangkat, senang sekali rasanya. Murah dan jadi tidak rugi waktu. Mungkin juga karena masih pagi makanya frekuensi busnya lumayan sering. Tapi kalau malas menunggu bisa naik taksi atau pesan Grab. Bayar sekitar RM 10-15.


15 menit kemudian saya tiba di Masjid Putra yang bewarna pink. Dari seluruh foto dan postcard yang pernah saya lihat, Masjid Putra inilah ikonnya. Persis di sebelahnya terdapat danau cantik dan sebuah gedung parlemen yang arsitekturnya berbau timur tengah.



Disana saya segera masuk ke dalam masjid, mengagumi keindahan detail arsitekturnya, lalu lanjut jalan pagi di sekitaran danau, dan foto-foto di depan gedung parlemen.Ternyata asik juga jalan-jalan di Putrajaya pagi hari karena masih sepi belum banyak pengunjung. Jadi bebas mau melakukan apa saja.



Darisitu saya kemudian memesan Grab untuk pergi ke salah satu atraksi utama di Putrajaya yang belum banyak dikenal orang. Astaka Morocco. Sebuah bangunan dengan arsitektur khas Morocco. Bangunan ini dibuat simetris di ke empat sisinya dengan sebuah air mancur spektakuler di tengahnya.



Cukup lama saya berkeliling di Astaka Morocco sebelum akhirnya memesan Grab untuk balik ke Putrajaya Station. Lalu dilanjut naik kereta untuk kembali ke KLIA.



Total saya hanya memerlukan waktu sekitar 5 jam-an untuk perjalanan singkat di Putrajaya ini. Dari naik kereta menuju Putrajaya, muter-muter di Masjid Putra dan Astaka Morocco, sampai balik lagi ke airport. Do-able lah walau waktu terbatas. Daripada mati gaya di airport yekan?

Selasa, 23 April 2019

Tur Super Hemat di Mui Ne, Vietnam

75rb rupiah di Vietnam dapat apa? Yakin bisa dapet sesuatu? Thanks to kurs mata uang Vietnam yang gak kuat-kuat amat. 75rb rupiah sudah dapat paket tur setengah hari di Mui Ne! Ini termasuk sewa jeep, antar/jemput dari penginapan, dan mengunjungi 4 lokasi paling populer di sana: the White Sand Dunes, the Red Sand Dunes, Fairy Stream, dan the Fishing Village.

Paket tur saya booking sehari sebelumnya dari hostel tempat saya menginap, Vietnam Backpacker Hostel Mui Ne. Ada 2 jam keberangkatan, sunrise tour di pagi hari atau sunset tour di sore hari. Saya pilih sunrise tour karena malam harinya harus balik ke Ho Chi Min naik bus.

Pukul 4.30 pagi, saya, 3 cewek Thailand teman sekamar, dan 7 bule lainnya sudah bersiap di lobby  hostel menunggu jeep jemputan. Tak lama berselang datanglah 2 jeep di parkiran hostel. Kami pun dibagi menjadi 2 kelompok. Jeep pertama diisi saya, 3 cewek Thailand teman sekamar, dan 2 orang tamu dari luar hostel yang ternyata surprisingly turis asal Indonesia . Lalu jeep satunya diisi 7 bule berkaki panjang yang terlihat seperti pepes sarden di dalam sebuah jeep berukuran mungil.

Setelah semua penumpang naik, jeep kemudian melaju menembus kegelapan pagi menuju lokasi pertama: the White Sand Dunes. Kami diantar persis di depan gerbang masuk lokasi. Dari sana ada 2 cara menuju spot melihat sunrise. Jalan kaki (gratis) atau bayar 200,000 Dong naik APV. Tentu saya pilih naik APV karena malas jalan kaki dan takut nyasar di padang pasir.



200,000 Dong itu kalau di rupiahkan sekitar 100rb. Tidak mahal-mahal amat lah untuk naik APV 10 menit pulang-pergi menuju spot sunrise yang konturnya naik turun. Kalau jalan kaki bisa ngos-ngosan naik turun bukit pasir. Tahu sendiri kan jalan di padang pasir itu butuh usaha ekstra. Apalagi saat naik bukit. Baru jalan 3 langkah bisa merosot 5 langkah.



Sayangnya pagi itu kami kurang beruntung. Langit kelabu diselimuti awan tebal. Jadi sunrise-nya kurang maksimal. Tapi tetap lumayanlah. Kapan dan dimana lagi bisa menikmati sunrise di padang pasir Asean kalau bukan di Mui Ne, Vietnam.

Yang paling unik, tiba-tiba saja ada sebuah balon udara mengudara dari antah barantah. Tidak disangka-sangka kalau ada juga balon udara di Vietnam, bukan hanya di Cappadocia (Turkey) atau Bagan (Myanmar).



Dari the White Sand Dunes perjalanan kemudian dilanjutkan naik jeep menuju lokasi kedua, the Red Sand Dunes. Kalau white sand dunes pasirnya bewarna putih, di red sand dunes ini pasirnya bewarna kemerahan. Lokasinya persis di pinggir jalan utama. Tinggal jalan kaki 5 menit langsung sampai. Disana kami menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk mengeksplor area depannya saja. Karena kami terlalu malas harus harus bersusah payah naik turun bukit pasir.
.
Berikutnya kami menuju destinasi ketiga, the Fishing Village. Tempat ini menurut saya kurang terlalu spesial karena hanya berupa desa nelayan biasa dengan pasar ikannya yang standar. Kami hanya berkeliling 15 menit disana sebelum minta segera diantar ke destinasi terakhir, the Fairy Stream.



Awalnya saya bingung tempat seperti apakah the Fairy Stream ini. Ternyata begitu sampai, the Fairy Stream ini semacam aliran sungai yang kanan kirinya dikelilingi bukit-bukit bewarna merah. Jangan takut basah kuyup saat berjalan menyusuri sungainya karena airnya dangkal hanya semata kaki. Lucunya di beberapa titik terdapat banyak pedagang asongan yang menjual dagangannya di pinggir sungai. Jadi kalau haus atau lapar, bisa sekalian mampir buat jajan.



Di Fairy Stream kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Setelah itu kami diantar balik ke hostel dan berakhir pula tur murah meriah di Mui Ne. Untuk harga 75,000 rupiah, tur ini worth the money dan WAJIB dicoba saat main-main di Mui Ne.




Sabtu, 20 April 2019

Jalan - Jalan di Siem Reap, Kamboja (Solo Traveling)

Pernah tidak solo traveling di negara kurang populer bagi orang Indonesia, namun malah berakhir jalan bareng dengan turis Indonesia. Saya pernah! Saat jalan-jalan ke Siem Reap, Kamboja.

Karena kepelitan saya untuk keluar duit USD 10 untuk ongkos taksi bandara-downtown, maka keluar imigrasi saya segera mencari teman buat patungan taksi. Lalu dapatlah 2 cewek asal Indonesia yang kebetulan sedang duo traveling. Ternyata mereka sudah lebih dulu menyewa tuk-tuk buat muter-muter Siem Reap seharian seharga USD 35. Alih-alih mau sharing cost buat ke downtown Siem Reap, saya malah diajakin untuk patungan sewa tuk-tuk seharian. Tentu saya terima ajakan ini dengan senang hati. Saya jadi hemat ongkos karena seharian cuman perlu keluar duit USD 12 untuk transportasi, dapat teman gosip dan teman jalan, serta dapat tukang foto pribadi.


How to go to Siem Reap, Cambodia?
Saya dapat tiket promo Airasia Jakarta - Kuala Lumpur seharga Rp. 325,000 PP
Ditambah tiket promo Airasia Kuala Lumpur - Siem Reap seharga Rp. 940,000 PP
Rute KL-Siem Reap saya lihat-lihat seringkali promo dengan harga terjangkau. Di samping itu, rute ini langganan promo Airasia big points. Dengan menukar 500 poin, kita sudah bisa dapat tiket KL-Siem Reap sekali jalan.


What to do in Siem Reap, Kamboja?
Temple hopping! Ada ribuan temple tersebar di Siem Reap dengan Angkor Wat sebagai ikonnya. Angkor Wat ini dulunya sempat menjadi kota terbesar dan terpadat di dunia. Namun masih misteri apa yang menyebabkan kemunduran kota ini sehingga berangsur-angsur ditinggalkan penduduknya.

Seharian temple hopping di Siem Reap, rencananya kami akan mengunjungi 4 temple paling populer di Siem Reap, termasuk Angkor Tomb yang menjadi lokasi syuting Tomb Rider.
- Angkor Wat (ikon Siem Reap)
- Angkor Tomb (lokasi syuting film Tomb Rider)
- Banyon Temple
- Takeo Temple



Namun ternyata setelah kunjungan di Bayon temple (temple ketiga), kami mabok candi. Akhirnya diputuskan untuk segera pindah ke Pub Street untuk chill out sembari menikmati senja di sore hari. Di luar dugaan, Pub Street ini seru sekali. Cafe-restonya lucu-lucu dan instagramable. Gak bakalan pernah bosen main Pub Street. Dan yang paling unik, di beberapa cafe/restoran mereka menyajikan daging aligator di salah satu menunya. Berani coba?


How about the night life?
Begitu malam tiba, jalanan sepanjang Pub Street ditutup untuk kendaraan umum dan Pub Street disulap menjadi jalanan kelap-kelip dengan musik jedag-jedug. Tinggal bar hopping saja dari bar yang satu ke bar yang lain sembari menikmati vibes nya yang young dan energetic. Yang tidak boleh ketinggalan, jangan lupa buat mampir ke Angkor What? Bar yang terkenal.
.
How much is the Angkor Wat ticket?
1 day ticket USD 37
3 days ticket USD 62
7 days ticket USD 72
.
Dari bandara kami langsung diantar naik tuk-tuk menuju loket resmi penjualan tiket masuk ke dalam Angkor Wat. Setelah masing-masing membayar USD 37, kami difoto dan fotonya dicetak di tiket masuknya. Jadi tidak bisa main curang 1 tiket untuk 2 orang karena ada fotonya. Saat memasuki area Angkor Wat pun tiket masuk ini selalu diperiksa.



Where to Stay?
Pilihlah akomodasi dekat Pub Street supaya tinggal selangkah kemana-mana. Bisa sekaligus hemat ongkos tuk-tuk. Saya menginap di One Stop Hostel, Siem Reap. Harga permalamnya Rp. 77,000/bed untuk sekamar 6 bed . Very recommended! Murah, staff ramah, kamar bersih, dan lokasi super strategis. Hostelnya sendiri juga menyediakan beragam paket half day dan one day trip di Angkor Wat/Siem Reap, juga airport transfer dengan harga super terjangkau.



Summary
Siem Reap langsung masuk ke dalam the best and affordable weekend getaway list saya. 3 hari 2 malam sudah cukup untuk menjelajahi kota ini karena atraksi utamanya berada di sekitaran Angkor Wat dan Pub Street. Jadi kemana-mana dekat. Siem Reap ini destinasi yang pas buat ritual sedikit berpetualang (siang hari) dan sedikit dugem (malam hari).

.