Sabtu, 25 November 2017

Solo traveling di India




Solo traveling di India? Siapa takut.

Ini bukan kali pertama saya melakukan solo traveling. Tapi jalan-jalan di India memang sangat menantang. Terutama menantang mental. Banyak yang bilang India itu jorok, kotor, semrawut, banyak scam, tidak aman, dan cerita-cerita miring lainnya. Tapi masa iya sih India sebegitu parahnya?

Seeing is believing. Makanya biar tidak penasaran, pergilah saya ke India pada Bulan Agustus 2017. Bertepatan juga dengan Monsoon Season. Enaknya traveling di musim begini, jadi lebih sepi turis karena mereka pada males jalan-jalan di musim penghujan.

Mehtab Bagh
Baby Taj Mahal
Tujuan utama saya ke India tidak lain untuk mengunjungi Taj Mahal. Biasanya rute yang jamak dipakai itu rute Golden Triangle: New Delhi-Agra-Jaipur. Tapi karena satu dan lain hal, rute yang saya pakai malah Lucknow-Agra-Jaipur. Ceritanya saya sudah terlanjur membeli tiket promo Airasia Jakarta-Singapore (PP). Jadi rute ke India ini mesti di pas-pasin dengan tiket ke Singapore. Dan saat itu masuk India lewat Lucknow yang paling murah ketimbang lewat Jaipur atau New Delhi.

Secara garis besar berikut rutenya:
Hari 1 : Jakarta to Singapore (by plane) + Singapore to Lucknow (by plane) + Lucknow to Agra (by night train)
Hari 2 : Agra (Fatehpursikri, Mehtab Bagh, Agra Fort)
Hari 3 : Agra (Taj Mahal, Baby Taj Mahal) + Agra to Jaipur (by train)
Hari 4 : Jaipur (Amber Fort, Jal Mahal, Hawa Mahal, City Palace, Nahargarh Fort)
Hari 5 : Jaipur to Singapore (by plane) + Singapore to Jakarta (by plane)

Setelah urusan tiket dan itinerary beres, saatnya mengurus visa. Visa India termasuk yang mudah pengurusannya. Tinggal apply secara online, visa di-approve dalam 3 hari kerja. Saya hanya melampirkan scan passport dan scan tiket pesawat PP, tanpa melampirkan surat keterangan kerja, booking hotel, atau scan buku tabungan.

Amber Fort
Untuk akomodasi di India, saya menginap di Zostel Agra dan Zostel Jaipur. Dua-duanya benar-benar recommended dengan harga kurang dari 100rb rupiah, sudah termasuk kamar bersih ber AC di lokasi super strategis. Jarak Zostel Agra ke Taj Mahal hanya 10min jalan kaki. Sementara jarak Zostel Jaipur ke Hawa Mahal hanya 5 menit jalan kaki. Sedangkan di Lucknow saya tidak memesan akomodasi karena malamnya akan naik sleeper train (AC 2nd class) ke Agra.

Selama berpindah kota saya memang selalu naik kereta (AC 2nd class). Kompartmen keretanya cukup bersih meskipun dari luar tampangnya kurang terawat. Terdapat complimentary berupa selimut, bantal, dan sprei. Semua dalam keadaan baru belum terpakai. Jadi terjamin ke higienisannya.

Sementara transportasi dalam kotanya, saya kemana-mana pakai tuk-tuk. Sebelum naik tuk-tuk saya selalu menyempatkan untuk bertanya pada resepsionis hostel perihal tarif normalnya. Dengan begitu saya tidak bakal kena tipu atau scam. Selain naik tuk-tuk saya juga pernah naik taksi prepaid yang tarifnya diregulasi oleh Pemerintah India. Jadi tarifnya jelas dan transparan. Saat itu saya seharian keliling Agra membayar 1950 rupee. Mengunjungi Mehtab Bagh, Agra Fort, dan Fatehpursikri.

Agra Fort
Kata orang jalanan di India itu ampun-ampunan macetnya. Anehnya justru saya tidak menemukan kemacetan berarti saat berada di Jaipur, Agra, atau Lucknow. Memang jalanannya terkadang padat dan sesekali tersendat. Tapi masih bisa dimaklumi dan masih lebih parah kemacetan di Jakarta. Apalagi di Mampang Prapatan yang macetnya tiada tara.

Mengenai perilaku sopir tuk-tuk dan taksi di India, mereka sama-sama gokil-gokil menyetirnya. Hobi membunyikan klakson, tidak mau mengalah, dan suka kebut-kebutan. Beberapa kali taksi dan tuk-tuk saya nyaris menabrak kendaraan lain. Mebuat saya deg-deg-an. Tapi entah mengapa saya justru suka sensasinya. Kapan dan dimana lagi bisa merasakan Fast and Furios kalau bukan di India.

Sebelum jalan-jalan di India, saya sempat khawatir bakalan tidak nyaman mengunjungi objek wisata disana. Awalnya saya piker tempat wisata di India kotor dan selalu dipadati turis. Maklum penduduk India itu berjumlah 1 milyar. Tanpa turis asing pun India sudah penuh sesak. Namun anggapan saya salah. Tempat wisata di India tidak seramai yang saya duga. Bahkan di beberapa tempat hanya ada saya dan segilintir turis asing. Jadi saya bebas mengambil gambar dan berpose sesuka hati. Surprisingly lagi semua tempat wisata di India ternyata bersih-bersih. Tidak ada sampah secuil pun. Toilet umumnya juga bersih. Jauh lebih baik dibandingkan dengan toilet umum di China Daratan.

Taj Mahal
Secara keseluruhan saya sangat menikmati waktu saya selama berada di India. India tidak sekumuh, sejorok, dan sesemrawut yang banyak orang bicarakan. Nyatanya objek wisata disana keren-keren, bersih, dan terawatt. Akses keman-mananya mudah. Baik di dalam kotanya atau antar propinsi. Makanannya juga enak-enak dengan bumbu yang berani. Cocok di lidah orang Indonesia. Orang-orang India yang saya temui rata-rata juga bisa berbahasa Inggris, mulai dari sopir tuk-tuk, orang di pinggir jalan, satpam, dan pelayan restoran. Membuat komunikasi disana menjadi mudah.

Kata orang setelah mengunjungi India “you will hate it or love it”.  Nothing in between. Ada yang kapok, ada juga yang jatuh cinta dengan India. Sedangkan bagi saya, India terlalu indah untuk dilewatkan. Jelas saya termasuk katagori kedua, I love it and would love to come back again one day. Solo traveling di India aman kok. You should try it too.

Nahargarh Fort


Instagram : @williamkellye

Tidak ada komentar:

Posting Komentar