Tampilkan postingan dengan label Malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaysia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Februari 2020

JALAN-JALAN DI PENANG DAN VIETNAM UTARA - PART 1

Di akhir tahun 2018, saya sempat main ke Vietnam Selatan mengunjungi Mui Ne dan Ho Chi Minh. Sayangnya saya kurang menikmati perjalanan saat itu karena setiap harinya selalu mendung dan turun hujan. Padahal Vietnam ini termasuk destinasi favorit para traveller karena alamnya yang indah dan biaya hidupnya yang murah. IDR 10,000 setara dengan DONG 16,900. Jarang-jarang Rupiah superior begini.

Demi membuktikan anggapan orang tentang Vietnam yang katanya keren banget, saya bertekad agar suatu saat dapat mengunjungi Vietnam lagi. Siapa sangka, keinginan tersebut terwujud dengan cara yang tidak diduga-duga. Awalnya saya hanya memiliki tiket Jakarta - Penang (PP) dan berniat menghabiskan 3 hari di Penang dan 3 hari di Langkawi. Namun tiba-tiba saja ada final call Airasia  dengan "harga miring" untuk penukaran big points rute Penang ke Hanoi. Tanpa babibu saya langsung menukarkan Airasia Big Points untuk rute Penang ke Hanoi sebelum kehabisan. Itinerary-nya jadi berubah 2 hari di Penang dan 4 hari di Hanoi. Cocoklah untuk trip tipis-tipis di tengah tahun.

HANOI TRIP PART 2

JAKARTA KE PENANG

Saya membeli tiket pesawat Jakarta - Penang saat ada promo free seat Airasia. Hanya dengan IDR 300,000 (PP) atau seharga tiket shuttle bus Jakarta-Bandung (PP). Murah sangat!

TRANSPORTASI DI PENANG


Transportasi umum di Penang kurang bisa diandalkan dan hanya melayani rute-rute tertentu dengan jam operational terbatas. Dari bandara ke Georgetown saya naik bus umum bayar MYR 2.70. Murah sih tapi rute busnya berputar-putar. Jarak bandara ke Georgetown yang hanya 20 km harus ditempuh selama 1.5 jam. Akhirnya saat pulangnya dari Georgetown ke bandara saya memesan Grab. Bayar MYR 20 tapi 30 menit sampai.

Selama di Georgetown saya kemana-mana jalan kaki. Kalau terlalu jauh barulah memesan Grab. Taksi jarang terlihat (tapi ada).

AKOMODASI DI PENANG

Di Penang saya mencari hotel budget di area Georgetown dan dapatlah Hotel Kimberley dengan harga permalam IDR 305,000. Hotel ini lokasinya cukup strategis karena dekat terminal bus, dekat shopping mall, dan berjarak 10 menit jalan kaki ke Armenian Street. Sepertinya Hotel Kimberley ini hotel favorit orang Indonesia karena saya banyak berjumpa dengan orang Indonesia disana.

DAY 1
PENANG

Mendarat di Penang, saya langsung menyelesaikan urusan imigrasi, mengambil bagasi, dan menunggu bus umum tujuan Georgetown. Semua lancar jaya. Tiba di hotel, karena terlalu pagi, kamar saya belum siap. Untungnya saya diperbolehkan menyimpan koper tanpa tambahan biaya. Lalu saya segera meluncur jalan kaki 10 menit ke Armenian Street untuk berburu mural.

Rata-rata mural populer di Penang merupakan karya dari Ernest Zacharevic. Seorang seniman muda kelahiran Lithuania tahun 1986. Karyanya yang paling terkenal adalah "Kids on Bike" dan paling panjang antriannya kalau mau berfoto.

KIDS ON BICYLCLE (2012)

BROTHER AND SISTER ON THE SWING (2012)

I WANT BAO (2014)

BOY ON BIKE (2012)

SUSU SOYA SEGAR


Cukup seru berburu mural di Penang mengingat letaknya yang tidak umum, berada di gang-gang sempit. Ditambah lagi saya tidak membeli paket data/sim card selama di Penang. Hanya mengandalkan secarik peta untuk mencari mural-mural tersebut. Kebayangkan "huru hara" selama perburuan mural.

PENANG PERANAKAN MANSION

Begitu beres foto-foto di mural terakhir, tiba-tiba saja turun hujan deras. Buru-buru saya segera mencari tempat berteduh di sebuah toko. Untung saja sesi foto-foto di luar ruangan dengan mural-mural di Armenian Street sudah selesai. Segera saya mencari spot free wifi untuk memesan Grab menuju Penang Peranakan Mansion.

Penang Peranakan Mansion sejatinya merupakan museum didedikasikan untuk "peranakan heritage" dan masuk ke dalam list situs budaya Unesco. Dulunya bangunan ini dipakai sebagai tempat tinggal Chung Keng Quee, seorang Chinese Tycoon dan juga orang terkaya di Penang pada abad ke 19, sebelum akhirnya dipugar dan dijadikan museum. 

Penang Peranakan Mansion buka setiap harinya dari pukul 9.30-17.00. Harga tiket masuknya MYR 20 sudah termasuk complimentary tour guide yang akan menjelaskan detail dan sejarah setiap sudut  ruangan.


KIMBERLEY HOTEL GEORGETOWN

Dari Penang Peranakan Mansion saya lalu kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok pagi-pagi sekali harus mengejar pesawat ke Hanoi. Sekalipun hanya menghabiskan waktu 1 hari di Penang tapi cukup berkesan. Saya suka bangunan kota tuanya yang terawat, deretan kedai kopi lokalnya, makanannya yang enak-enak, serta suasananya. Dibandingkan kota tua Malaka, saya jauh lebih suka Penang karena lebih banyak yang bisa dilihat dan dilakukan.


- TO BE CONTINUE -


Instagram : @williamkellye
https://www.instagram.com/williamkellye/

#Europe #Travel #Backpacking #Explore #Wanderlust #Destination #Williamkellye #ASEAN #Malaysia #Penang #Hanoi #Vietnam


Sabtu, 15 Februari 2020

EURO TRIP 2016 - PART 2 : JALAN - JALAN DI KUALA LUMPUR DAN AMSTERDAM



DAY 0
10 JAM DI KUALA LUMPUR


Pesawat Airasia yang saya tumpangi mendarat mulus di bandara KLIA-2. Setelah urusan imigrasi dan pengambilan bagasi kelar saya langsung mencari bus bandara tujuan KL Sentral. Bus bandara di KLIA-2 memang sedikit kurang terawat. Tapi AC-nya dingin, kursinya nyaman, dan harganya murah meriah. Cukup membayar RM 12 untuk 1 jam perjalanan. Bandingkan jika naik kereta KLIA Express yang harganya RM 55 sekali jalan.

Karena penerbangan lanjutan Kuala Lumpur ke Amsterdam masih dini hari nanti maka diputuskan untuk menyewa hotel budget di daerah KL Sentral. Supaya bisa beristirahat, menyimpan koper, dan sekaligus tidur siang. Faktor kenyamanan menjadi poin penting dalam perjalanan kali ini karena saya pergi bersama ibu saya. Jadi sebisa mungkin kami tidak terlalu memaksakan diri dan capek. Untuk itinerary selama di Kuala Lumpur, kami hanya menghabiskan sore jalan-jalan santai di daerah Bukit Bintang sebelum lanjut makan malam di KLCC sambil foto-foto dengan latar Petronas Twin Tower.


TRANSIT DI ABU DHABI


Pukul 9 malam saya sudah berada di KL Sentral lagi untuk mengejar bus menuju bandara KLIA-1. Kemudian saya check in di Etihad Airlines dan menunggu pesawat tujuan Amsterdam dengan transit di Abu Dhabi.

Besar dan luas. Itulah impresi awal saya ketika tiba di Abu Dhabi International Airport. Bagaimana tidak, bandara terbesar kedua di UAE ini (setelah Dubai Int. Airport) memiliki luas 3,400 hektar serta melayani 24 juta penumpang setiap tahunnya. Sayangnya saat itu orang Indonesia perlu visa untuk masuk ke UAE. Karena waktu transit yang terbatas dan harga visa transit UAE yang tidak murah, saya memilih untuk tetap tinggal di bandaranya saja. Untungnya ada banyak toko disana yang lumayan menarik buat cuci mata.

SCHIPHOL AIRPORT


Tiba di Schiphol Airport, Belanda, tidak ada masalah berarti saat mengantri imigrasi. Saya hanya ditanya akan jalan-jalan di Eropa berapa lama dan dicek apakah sudah punya tiket balik ke Indonesia. Pengambilan bagasi pun lancar tidak ada drama.

Dari bandara Schiphol ada 3 cara menuju pusat kota, yaitu :

  • Menggunakan NS Train (harga EUR 4.2 + EUR 1 surcharge untuk disposable ticket, berhenti di Amstedam Central)
  • Naik bus no 197 (harga EUR 5, berhenti di Museumplein dan Leidseplein)
  • Naik GVB Bus no 69 (harga EUR 2.9, berhenti di Amsterdam Sloterdijk)

Karena saya traveling on budget tentu saya pilih opsi no 3 yang termurah dengan naik GBV Bus no 69. Setelah dihitung-hitung akan semakin hemat jika saya membeli tiket terusan 24 Hour GVB ticket seharga EUR 7.5. Bisa digunakan untuk pemakaian tidak terbatas naik bus, metro, dan tram GVB selama 24 jam setelah kartu diaktifkan. Artinya jika saya aktifkan kartunya sore ini pukul 16.00, saya masih bisa naik bus, metro, dan tram GBV hingga keesokan harinya paling lambat pukul 16.00.

Tiket terusan 24 Hour GBV ticket akan otomatis aktif pada saat pemakaian pertama (tap-in). Setiap akan turun dari bus/metro/tram kita diwajibkan untuk tap-out sebelum turun.



TRANSPORTASI DI AMSTERDAM


Sebetulnya tiket terusan 24 Hour GBV ticket seharga EUR 7.5 sudah cukup mumpuni kalau hanya sekedar jalan-jalan di dalam kota Amsterdam. Apabila ada rencana keluar kota seperti ke Zaanse Schans atau Volendam maka kita perlu membeli tambahan Amsterdam Region Ticket karena rute di luar kota Amsterdam tidak dilayani oleh perusahaan GBV. Harga Amsterdam Region Ticket ini EUR 13.5, berlaku 24 jam untuk pemakaian tidak terbatas alat transportasi milik perusahaan GBV, EBS, dan Connexxion sejak pertama kali diaktifkan.

Selain GBV ticket dan Amsterdam Region Ticket, ada juga kartu pintar lainnya seperti OV-chip yang mirip seperti octopus card di Hongkong atau EZ Link di Singapura. Namun setelah dihitung-hitung akan paling hemat jika menggunakan tiket terusan 24 Hour GBV Ticket selama berada di Amsterdam dan Amsterdam Region Ticket jika ingin berkunjung ke kota-kota sekitaran Amsterdam.

AKOMODASI DI AMSTERDAM


Agak PR untuk mencari akomodasi murah di Amsterdam tapi bukan hostel. Setelah menimbang-nimbang antara lokasi dan budget dapatlah titik temu di Easy Hotel Amsterdam (city center). Harga per malamnya IDR 1.5 juta, lumayan mahal memang. Untung hanya menginap 2 malam saja jadi tidak tekor terlalu banyak.

Yang paling saya suka dari hotel ini adalah lokasinya yang strategis. Dekat mana-mana dan dilalui 2 rute tram. Bonusnya lagi, hotel ini dekat dengan restoran Indonesia.

DAY 1MUSEUMPLEIN


Tidak banyak tempat yang saya kunjungi hari ini. Selain baru tiba di hotel lumayan sore, saya juga masih sedikit terasa jetlag akibat 3 penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur, Abu Dhabi, dan Amsterdam. Jadi agenda hari ini hanya berkunjung ke Museumplein.

Museumplein merupakan satu area dimana ada 3 museum dan concert hall Concertgebouw tumplek blek jadi satu. 3 museum itu terdiri dari Rijksmuseum atau Dutch National Museum yang didedikasikan untuk arts dan history. Lalu Van Gogh Museum yang menyimpan karya-karya dari pelukis Van Gogh sekaligus menjadi museum paling banyak dikunjungi di Belanda dengan total 2.3 juta kunjungan dalam 1 tahun. Terakhir Stedelijk Museum yang merupakan museum modern and contemporary art dengan arsitektur bangunan futureristik.



DAY 2ZAANSE SCHANS


Setelah kemarin hanya mengunjungi Museumplein, hari ini agendanya lumayan padat karena akan mengeksplor Amsterdam dan kota-kota disekitarnya dimulai dari Zaanse Schans. Zaanse Schans merupakan sebuah desa yang terkenal dengan kincir angin tradisionalnya. Bisa dicapai naik kereta atau naik Connexxion Bus no 391. Katanya sih kalau naik kereta bakalan jauh jalannya dari stasiun terdekat menuju Zaanse Schans (sekitar 1 km) jadi lebih baik naik bus kesana. Turun di halte terakhir, persis di depan Museum Zaanse Schans atau 5 menit berjalan kaki menuju gerbang desa.

Beberapa kincir angin di Zaanse Schans memang memasang tarif masuk tetapi beberapa lainnya bisa dimasuki secara gratis seperti kincir angin De Huisman. Di dalamnya kita bisa melihat beberapa mesin penggiling kuno yang masih beroperasi dan digerakkan secara manual oleh kincir angin.

Selain ada kincir angin konvensional, di Zaanse Schans juga terdapat rumah-rumah kayu kuno khas Belanda, museum shops menjual beragam souvenir, dan beberapa pabrik tradisional seperti pabrik keju dan pabrik liquor yang bisa dimasuki secara gratis.





VOLENDAM


Volendam sejatinya merupakan sebuah desa Nelayan yang bisa dicapai 30 menit naik bus no 316 dari Amsterdam Central. Dulunya penduduk Volendam berprofesi sebagai nelayan tradisional. Namun seiiring pembangunan bendungan di sekitar desa yang berdampak pada berkurangnya hasil tangkapan ikan maka mereka beralih profesi di sektor pariwisata.

Biasanya orang datang ke Volendam untuk berfoto ala Nyonya Meneer Belanda di studio foto yang banyak tersebar disana. Harganya EUR 20 untuk 2 orang, sudah termasuk foto hardcopy dan CD berisi softfile. Sehabis foto-foto bisa lanjut jalan-jalan di sekitar pelabuhan atau sekedar nongkrong di café sambil melihat barisan kapal hilir mudik.

Rumah-rumah di Volendam memiliki arsitektur khas yang berbeda dengan rumah kayu di Zaanse Schans atau tipikal bangunan di Amsterdam. Suasananya tenang dan sangat terasa nuansa pedesaan yang kental. Kalau mau membeli souvenir murah, sepertinya Volendam tempatnya. Soalnya saya kerap menemukan souvenir serupa dengan harga lebih murah dibandingkan di Amsterdam atau Zannse Schans.



BLOEMENMARKT & ALBERT CUYPSTRAAT


Setelah mengunjungi Zaanse Schans dan Volendam ternyata saya masih punya sisa waktu. Jadinya saya pergi ke pasar bunga terapung di Bloemenmarkt dan street market di Albert Cuypstraat. Untuk tiba di Bloemenmarkt, cukup naik tram nomor 16 dari Amsterdam Central turun di Muntplein, lalu dilanjut berjalan kaki 10 menit.

Selain menjual beragam jenis bunga, souvenir andalannya berupa benih bunga tulip yang dimasukkan ke dalam sepatu tradisional Belanda. Sebetulnya saya ingin membelinya, tapi takut disita di bandara karena masih harus singgah di beberapa negara sebelum balik ke Jakarta. Kalau saja Amsterdam pemberhentian terakhir, sudah pasti saya akan membawa pulang beberapa bungkus. Harganya juga tidak mahal-mahal amat.


Sedangkan Albert Cuypstraat bisa dicapai dengan naik tram nomor 16 turun di Albert Cuypstraat. Albert Albert Cuypstraat ini semacam jalanan yang disulap jadi street market seperti Ladies Market di Hongkong tapi dengan European Twist dan katanya paling besar seantero Amsterdam. Menjual berbagai macam barang mulai dari pakaian, kebutuhan rumah tangga, souvenir, sampai jajanan khas Belanda seperti waffle, poffertjes, herring broodjes dengan harga bersahabat. Jam bukanya dari pukul 09.00-17.00, Senin sampai Sabtu.



Karena hanya punya 1 hari penuh buat jalan-jalan di Amsterdam, saya cukup puas karena bisa mampir di banyak tempat dalam waktu terbatas. Memang masih belum sempat ke Edam, Marken, Keukenhof, dan Madurodam tapi tempat yang saya datangi cukup meninggalkan kesan “Belanda” mendalam. Semoga masih dapat berjumpa lagi di kemudian hari.


Cheers,

Instagram : @williamkellye
https://www.instagram.com/williamkellye/

#Europe #Travel #Backpacking #Explore #Wanderlust #Destination #Williamkellye #Paris #Amsterdam #Santorini #Rome #Athens


Rabu, 24 April 2019

JALAN - JALAN DI PUTRAJAYA MALAYSIA

Pesawat Airasia yang saya tumpangi mendarat mulus di KLIA-2 pukul 6 pagi. Padahal pesawat lanjutan saya ke Jakarta baru akan berangkat sekitar pukul 1 siang. Artinya ada 7 jam lebih waktu transit di KLIA-2. Memang sih ada macam-macam toko di KLIA-2 buat cuci mata. Mulai dari toko fashion, toko souvenir, branded stores, aneka restoran, coffee shop, dan sebangsanya. Tapi bosan juga kalau hanya berdiam diri di KLIA-2 sampai siang.

Daripada mati gaya di bandara saya berpikir keras mau pergi kemana dalam waktu tanggung begini. Mau ke Kuala Lumpur tapi kok kejauhan. Naik bus saja perlu waktu 1 jam. Belum lagi ditambah waktu antrian imigrasi keluar & masuk yang tidak sebentar. Lagipula pagi-pagi begini masih banyak toko belum pada buka. Dan lagi hampir semua tempat touristy di Kuala Lumpur sudah pernah saya kunjungi semua. Jadi agak malas rasanya harus mengulang untuk kali kedua.

Di tengah kegalauan ini tercetuslah ide untuk jalan-jalan ke Putrajaya. Putrajaya merupakan sebuah kota administratif Malaysia seluas 5,000 hektar yang jaraknya 40 km dari Kuala Lumpur atau 30 km dari bandara KLIA-2. Karena baru dibangun tahun 1995, Putrajaya ini kotanya rapih dan teratur. Tidak tampak kabel listrik awut-awutan, tidak ada bangunan liar. Semua pembangunannya sudah dipikirkan dengan matang dan cermat.

Ada banyak sekali tempat menarik di Putrajaya, diantaranya:
  • Putrajaya Botanical Garden (taman botanical terbesar di Malaysia dengan luas 92 hektar dan koleksi 7,000 spesies tanaman)
  • Masjid Putra (mampu menampung hingga 15,000 jamaah)
  • Perdana Putra (Prime Minister's Office)
  • Astaka Morocco (bangunan bergaya Maroko yang dibangun atas kerjasama Pemerintah Malaysia dengan Pemerintah Maroko)
  • Dataran Putra (alun-alun tempat diadakan perayaan penting di Putrajaya, seperti parade kemerdekaan setiap bulan Agustus)
  • Palace of Justice (Istana Kehakiman)

DARI KLIA-2 KE PUTRAJAYA


Cara termudah menuju Putrajaya adalah dengan naik KLIA-Transit, lalu turun di stasiun Putrajaya. Harganya MYR 9.40 kalau berangkat dari KLIA-2 atau MYR 14,00 kalau dari KL Sentral. Tidak mahal-mahal amat. Lama perjalanan 18 menit dari KLIA-2 atau 20 menit dari KL Sentral. 

Setibanya di stasiun Putrajaya bisa langsung disambung naik Grab/taksi/bus umum menuju tempat wisata di Putrajaya. Karena keterbatasan waktu, saya hanya mengunjungi 3 tempat disana:

  1. Masjid Putra
  2. Perdana Putra (Prime Minister's Office)
  3. Astaka Morocco

MASJID PUTRA


Masjid Putra dibangun dengan arsitektur campuran antara Persia, Malaysia, dan Arab. Design minaret setinggi 116 m nya terinspirasi dari Masjid Syekh Omar di Baghdad dan dinding basemennya dibuat menyerupai Masjid King Hassan di Casablanca, Maroko. Dengan kubah ikoniknya yang bewarna pink, Masjid Putra ini sering dijadikan ikon dari Putrajaya dan juga gambar postcard.



PERDANA PUTRA (PRIME MINISTER'S OFFICE)


Siapa sangka bangunan unik 6 lantai dengan atap berbentuk bawang ini menjadi ruang kerja Perdana Mentri Malaysia. Kalau di Indonesia mungkin bisa disamakan seperti Istana Negara. Dibangun dari tahun 1997 hingga 1999, Perdana Putra ini kental akan arsitektur bergaya Islamic-Mogul. Letaknya persis di sebelah Masjid Putra dan dekat danau. Jadi biasanya Perdana Putra dan Masjid Putra dikunjungi bersamaan



ASTAKA MOROCCO


Salah satu bangunan "hidden gem" di Putrajaya karena keberadaan dan lokasinya belum banyak orang yang tahu. Sesuai namanya, Astaka Morocco ini didesain simetris di ke empat sisinya dengan detail dan ornamen khas Maroko. Sehingga membuat kita yang berkunjung kesana berasa sedang berada di Casablanca. Karena memang semirip itu. Kalau kesana jangan lupa mampir ke bagian tengahnya dimana terdapat sebuah air mancur spektakuler.




PUTRAJAYA KE KLIA-2


Setelah puas mengelilingi Astaka Morocco, saya lalu memesan Grab menuju Stasiun Putrajaya untuk kemudian naik kereta KLIA transit menuju KLIA-2. Total saya hanya memerlukan waktu sekitar 5 jam-an untuk perjalanan singkat di Putrajaya. Dari mulai mengantri keluar imigrasi, naik kereta KLIA transit menuju Putrajaya, lalu keliling Masjid Putra, Perdana Putra, dan Astaka Morocco, sampai balik lagi ke airport. Highly recommended lah kalau kebetulan sedang transit di KLIA minimal 6 jam. Daripada mati gaya di airport yakan?



Instagram : @williamkellye
https://www.instagram.com/williamkellye/

#Travel #Backpacking #Explore #Wanderlust #Destination #Williamkellye #KualaLumpur #Malaysia #Putrajaya

Jumat, 05 April 2019

LIBURAN TAHUN BARU DI SINGAPURA DAN KUALA LUMPUR

Saya selalu malas kalau diajak liburan natal dan tahun baru. Bukan apa-apa. Saat high season seperti itu, biasanya harga tiket pesawat sering tidak masuk akal. Belum lagi tempat wisatanya selalu penuh oleh pengunjung. Mana bisa enjoy yakan?

Sampai di suatu pagi tiba-tiba saja grup Backpacker International di facebook ramai oleh postingan tiket gledeknya Tiket.com untuk maskapai Malaysian Airlines rute Jakarta-Kuala Lumpur seharga IDR 350,000. Full services loh ini! Termasuk bagasi, meal, dan in flight entertainment. Iseng-iseng saya mengecek harga tiket di tahun baru dan ternyata cuman IDR 350,000.

Buru-buru segera saya amankan tiketnya meskipun saat itu saya lagi di atas gojek menuju kantor. Untung saja saya gercep, karena pas sampai kantor tiket gledeknya sudah ludes diborong netijen. Tinggal tersisa tiket dengan harga normal yang mahalnya keterlaluan.

ITINERARY


Setelah tiket pesawat di tangan barulah saya memikirkan rute perjalanan 5 hari ke depan. Pinginnya sih dari Kuala Lumpur lanjut terbang ke negara baru. Cuman karena lagi musim liburan, harga tiket pesawatnya tidak masuk di budget. Alternatifnya mencari destinasi yang bisa dicapai lewat jalan darat seperti Singapura atau Hatyai di Thailand. Tapi akhirnya saya putuskan untuk ke Singapura saja karena sudah lama banget tidak berkunjung kesana. Terakhir betul-betul main ke Singapura itu tahun 2013, sisanya hanya transit beberapa jam saja.

DAY 1
JAKARTA KE KUALA LUMPUR


Seperti biasa, saya seringkali memilih jam keberangkatan pesawat di malam hari supaya siangnya bisa kerja di kantor dulu. Kerjaan beres, cuti tetap utuh. Sekalipun kantor saya dibilangan kuningan, saya selalu berangkat paling lambat 3 jam sebelum boarding time dari kantor. Traffic di Jakarta tidak bisa ditebak. Apalagi kalau sedang jam pulang kerja dan kebetulan hujan. Lebih baik menunggu di bandara ketimbang kejar-kejaran gak karuan naik taksi ke bandara karena takut telat. Untungnya pesawat Malaysian Airlinesnya ontime jadi saya tidak terlalu lama menunggu di bandara. Penerbangan Jakarta ke Kuala Lumpur memakan waktu 2 jam.

Tiba di KLIA-1, saya langsung mencari spot buat tidur. Saya memang sengaja tidak memesan akomodasi karena besok pagi-pagi sekali akan naik bus ke Singapura. Lumayan kan bisa irit ongkos penginapan 1 malam.

Setelah dilihat-lihat, saya ternyata lebih suka suasana KLIA-2 (low cost) ketimbang KLIA-1 (full services). Toko-toko dan restoran di KLIA-2 juga lebih lengkap dan bervariasi ketimbang KLIA-1. Untungnya meskipun tidak familiar dengan KLIA-1 saya tetap hoki mendapatkan kursi nyaman untuk tidur beberapa jam hingga pagi menjelang.

DAY 2
KUALA LUMPUR KE SINGAPURA


Ada banyak provider bus yang melayani rute Kuala Lumpur ke Singapura. Untungnya ada juga yang keberangkatan awalnya dari KLIA-1. Jadi saya tidak perlu repot-repot ke Terminal Pudu Raya atau kota Kuala Lumpur buat mengejar bus ke Singapura.

Saya naik Bus Starmart seharga MYR 60. Busnya bersih dan nyaman dengan pengaturan kursi 1-2. Total perjalanan sekitar 8 jam. Yang bikin lama antrian saat masuk ke Singapura karena saya mesti mengantri hampir 1 jam. 

BEAR HOSTEL


Harga akomodasi di Singapura tidak ada yang murah. Sudah mahal, kamarnya sempit pula. Setelah teliti mencari, akhirnya saya pilih BEARY BEST HOSTEL dengan harga IDR 300,000 per bed, per malam. Saya pilih hostel ini karena lokasinya super strategis, hanya 5 menit jalan kaki dari MRT Chinatown. Review di hostelworldnya juga lumayan bagus.

GARDEN BY THE BAY


Malam pertama di Singapura saya habiskan dengan mengunjungi Garden By the Bay, taman futuristik seluas 250 hektar mirip seperti film Avatar. Saya sengaja datang sekitar pukul 19.30 supaya bisa menyaksikan pertunjukkan kelap kelip lampu, musik, dan cahaya yang rutin dimainkan pada pukul 19.45 dan 20.45 setiap harinya.

DAY 3
SINGAPORE CITY TOUR


Hari ini saya akan seharian city tour di Singapura. Rute hari ini sebagai berikut:
Hostel - Haji Lane - Masjid Sultan - People's Park Complex - Fort Canning - Artscience Museum - Library at Orchard - Hostel

HAJI LANE


Warna-warni Haji Lane tidak bakal membuat bosan siapapun yang mengunjunginya. Sepanjang jalannya didominasi deretan cafe-resto dengan beragam mural dan seni jalanan. Datanglah pagi-pagi jika ingin bebas berkreasi dan berfoto-foto tanpa gangguan, karena menjelang siang hingga malam, tempat ini akan dibanjiri lautan pengunjung.

MRT terdekat: Bugis
Ticket: Free

MASJID SULTAN


Salah satu masjid paling ikonik seantoro Singapura. Dengan kubahnya yang bewarna kuning keemasan, membuatnya mudah dikenali dari kejauhan. Lokasi Masjid Sultan persis di sebelah Haji Lane. Jadi kalau sedang berkunjung ke Masjid Sultan, jangan lupa untuk sekalian mampir ke Haji Lane. Begitu pula sebaliknya.

MRT terdekat: Bugis
Ticket: Free

PEOPLE'S PARK COMPLEX


Sejak kemunculan instagram, banyak lokasi-lokasi yang tadinya tidak terkenal tiba-tiba saja menjadi beken dan instagramable. Salah satunya People's Park Complex, gedung tempat tinggal bergaya tahun 1970an dengan warna kuning mustard.

Dari hostel saya hanya perlu jalan kaki 10 menit kesana . Awalnya saya agak bingung mencari pintu masuknya. Tapi ternyata gedung ini bisa di akses dengan masuk ke mall di sampingnya terlebih dahulu. 

MRT terdekat: Chinatown
Ticket: Free

ARTSCIENCE MUSEUM


Saya bukan penggemar museum pra-sejarah. Tapi beda ceritanya kalau berkunjung ke museum kontemporer seperti Artscience Museum di Singapore. Museum ini berbeda dibandingkan museum konvensional pada umumnya karena menampilkan karya dan instalasi yang menggabungkan antara seni dan teknologi. Unik, menarik, dan kekinian.

MRT terdekat: Bayfront
Ticket: SGD 18

FORT CANNING


Siapa sangka sebuah taman pusat kota persis di sebelah Dhobi Ghaut MRT bisa menjadi lokasi yang instagramable. Fort Canning namanya. Sebuah taman dengan dinding berlubang di bagian atasnya. Lokasi ini mengingatkan saya akan Goa Jomblang di Gunung Kidul. Tapi versi modernnya.

MRT terdekat: Dhobi Ghaut
Ticket: Free

LIBRARY AT ORCHARD


Mungkin ini perpustakaan paling modern yang pernah saya datangi. Bernuansa minimalis serba putih. Cocok buat baca buku/novel sambil numpang wifi gratisan, numpang nge-charge handphone, sembari meluruskan kaki setelah gempor seharian jalan kaki di Orchard Road.

MRT terdekat: Somerset
Ticket: Free

DAY 4
SINGAPURA KE KUALA LUMPUR


Pukul 10 pagi, saya sudah bersiap di Golden Mile untuk mengejar Bus Starmart tujuan Kuala Lumpur. Harganya SGD 20 dengan lama perjalanan sekitar 7 jam. Untungnya antrian imigrasi keluar Singapura tidak seramai saat kemarin masuknya. Tidak sampai 30 menit saya sudah menyelesaikan imigrasi baik di sisi Singapura dan Malaysia.

REGALIA RESIDENCES


Karena hari ini bertepatan dengan tanggal 31-Des maka malam nanti akan ada pesta tahun baru. Di Kuala Lumpur sendiri, pusat perayaan tahun baru ada di Putrajaya, KLCC, dan Dataran Merdeka. Tapi saya yang sudah kena faktor "U", malas kalau harus berdesak-desakan di lautan manusia. Ditambah lagi ramalan cuaca yang mengatakan kalau malam nanti akan turun hujan. 

Oleh sebab itu saya menikmati malam pergantian tahun baru dari penginapan saja. Makanya saya cari akomodasi yang punya view keren pemandangan kota Kuala Lumpur dan ketemulah Regalia Residences. Biasanya kalau di Kuala Lumpur saya selalu menginap di the Face Suites via Airbnb tapi kali ini saya mau nuansa yang berbeda. 

Harga per bed, per malam, di Regalia Residences cukup murah, yaitu sebesar USD 18. 1 kamar dorm terdiri dari 4 bed. Biarlah harus sharing kamar dengan orang tidak dikenal, yang penting harganya murah dan malamnya bisa tahun baruan di infinity pool-nya dengan pemandangan langsung Petronas Twin Tower dan Menara Kuala Lumpur.

Overall Regalia Residences ini kualitasnya masih di bawah the Face Suites yang serba premium. Regalia Residences ini interiornya banyak yang bocel-bocel dan kurang terawat. Liftnya juga super lelet. Untungnya lokasinya strategis, mudah dijangkau naik transportasi umum, dan kolam renangnya tidak mengecewakan. Tapi next time ke Kuala Lumpur saya tidak mau menginap disana lagi.

NEW YEARS EVE


Sesuai rencana, malam pergantian tahun 2018 ke 2019 saya habiskan dengan nongkrong di kolam renang lantai 37 Regalia Residences. Ternyata bukan hanya saya saja yang berpikir demikian, karena kolam renang sudah dipenuhi puluhan pengunjung lainnya. Untung saja saya tiba 30 menit lebih awal jadi bisa mendapat spot terdepan tanpa halangan.

Begitu kembang api pertama di luncurkan pada pukul 00.00, semua orang langsung bersorak dan bertepuk tangan. Seru banget vibesnya walaupun harus nonton dari secuil kolam renang dengan space serba terbatas. Tapi dibandingkan harus berdesak-desakan dengan ribuan manusia lainnya di KLCC, Dataran Merdeka, atau Putrajaya, saya lebih suka dan lebih nyaman nonton kembang apinya dari Regalia Residences saja. Beres fireworks tinggal balik tidur ke kamar. Coba kalau saya nonton di KLCC atau Putrajaya, bisa ribet untuk mencari transportasi balik. Bisa-bisa baru paginya balik ke apartment.

DAY 5
REGALIA RESIDENCES


Hari terakhir di Kuala Lumpur, tidak banyak yang saya lakukan selain berenang pagi di infinity pool Regalia Residences. Waktu itu jam menunjukkan pukul 7 dan surprisingly hanya ada saya seorang  saja disana. Jadi serasa kolam renang pribadi. Padahal kan, kemarin sore ramenya bikin malas menyebur.

Setelah sekitar 1 jam berenang dan bersantai, saya kembali lagi ke kamar untuk bersiap-siap pulang dan menuju bandara. Dan berakhir pula liburan tahun baru singkat di Singapura dan Kuala Lumpur.



Senin, 07 Januari 2019

PILIH MANA, REGALIA RESIDENCES ATAU THE FACE SUITES

Regalia Residences dan the Face Suites KL. Kedua akomodasi ini banyak direkomendasikan para traveler sebagai penginapan terbaik di Kuala Lumpur karena memiliki infinity pool keren dengan background Petronas Twin Towers dan Menara Kuala Lumpur. Tapi pilih yang mana? Regalia Residences atau the Face Suites? Berhubung saya pernah menginap di keduanya, review singkat ala saya ini mungkin bisa sedikit membantu.

the Face Suites

LOKASI


Baik Regalia Residences maupun the Face Suites lokasinya sama-sama berada di pusat kota Kuala Lumpur. Namun the Face Suites lokasinya lebih strategis dan lebih dekat dengan jantung kota Kuala Lumpur. Dari the Face Suites, saya cukup berjalan kaki 10 menit saja menuju KLCC atau Petronas. Tapi kalau dari Regalia Residences saya harus naik uber MYR 10 atau 2x berganti kereta ke KLCC.

Berikut ini perbandingan jarak antara Regalia Residences dan the Face Suites terhadap KLCC, Menara KL, dan KL Sentral.

KLCC ke Regalia Residences: 1.6 km
The Face Suites ke KLCC (Petronas): 1.6 km
The Face Suites ke Menara KL: 1.9 km
The Face Suites ke KL Sentral: 5.7 km 

Regalia Residences ke KLCC (Petronas): 3.1 km
Regalia Residences ke Menara KL: 3.4 km
Regalia Residences ke KL Sentral: 7.3 km 

Skor 1 : 0 untuk the Face Suites

the Face Suites

the Face Suites

TRANSPORTASI PUBLIK


Baik Regalia maupun the Face Suites sama-sama bisa diakses via transportasi umum. Regalia bisa dicapai 5 min jalan kaki dari Stasiun Putra sedangkan the Face Suites 5 min jalan kaki dari Stasiun Monorail Bukit Nanas. Kalau naik Grab, keduanya bisa ditempuh 10 menit berkendara dari KL Sentral. 

Skor imbang 0-0

Regalia Residences


Regalia Residences

INFINITY POOL


Keduanya sama-sama memiliki infinity pool dengan pemandangan langsung Petronas Twin Tower dan Menara Kuala Lumpur. Hanya saja karena letak the Face Suites lebih dekat dengan KLCC maka pemandangan Petronas Twin Tower terlihat lebih jelas. Ditambah lagi infinity pool di the Face Suites terletak di lantai 51 yang konon katanya tertinggi di Kuala Lumpur. Sementara infinity pool Regalia hanya berada di lantai 37. 

Skor 2-0 untuk the Face Suites

the Face Suites

the Face Suites

HARGA PER MALAM


Keduanya bisa dipesan dengan harga kurang dari USD 50 per malam via Airbnb. Usahakan untuk melakukan pemesanan jauh-jauh hari supaya bisa dapat banyak pilihan host, banyak pilihan harga (sesuai budget), serta kepastian ketersediaan kamar. Paling murah, saya pernah dapat USD 21/malam di the Face Suites dan USD 16/malam di Regalia. Tidak beda jauh sih harganya tapi Regalia Residences memiliki sedikit keunggulan.

Skor 2-1 untuk the Face Suites

Regalia Residences

Regalia Residences

Regalia Residences

KUALITAS, FASILITAS, DAN INTERIOR


The Face Suites lebih unggul. Lebih berkelas, lebih terawat, lebih premium, dan lebih berkesan mewah. Fasilitasnya juga mumpuni. Ada gym, kolam renang sekunder untuk anak kecil, dan perpustakaan yang bisa diakses gratis oleh para tamu hotel/apartmentnya.

Sedangkan Regalia Residences, entah mengapa bangunannya sedikit tidak terawat. Cat temboknya terkelupas, dindingnya kusam, dan interior liftnya bocel-bocel. Tidak sedap dipandang mata. Malah liftnya super lelet dan fasilitasnya biasa saja.

Skor 3-1 untuk the Face Suites

Akhirnya dengan segala keunggulan yang ada, saya lebih memilih menginap di the Face Suites. Interior gedungnya lebih terawat dan terasa luxury. Begitu pula kamarnya yang terlihat lebih fresh, lebih modern, dan spacious. Infinity pool-nya juga juara kelas. Dengan view langsung Petronas Twin Towers dan Menara KL. Harganya memang sedikit lebih mahal dari Regalia tapi setimpal dengan kualitas dan apa yang didapat. Setuju kan?

the Face Suites



Instagram : @williamkellye
https://www.instagram.com/williamkellye/

#Travel #Backpacking #Explore #Wanderlust #Destination #Williamkellye #ASEAN #Malaysia #Singapore #Kualalumpur #RegaliaResidences #theFaceSuites

Minggu, 03 Desember 2017

TRANSIT DI KUALA LUMPUR - MALAYSIA

Pesawat Airasia yang saya tumpangi mendarat mulus di KLIA-2 pukul 6 pagi. Padahal pesawat lanjutan saya ke Jakarta baru akan berangkat sekitar pukul 1 siang. Artinya ada 7 jam lebih waktu transit di KLIA-2. Memang sih ada macam-macam toko di KLIA-2 buat cuci mata. Mulai dari toko fashion, toko souvenir, branded stores, aneka restoran, coffee shop, dan sebangsanya. Tapi bosan juga kalau hanya berdiam diri di KLIA-2 sampai siang.

Daripada mati gaya di bandara saya berpikir keras mau pergi kemana dalam waktu tanggung begini. Mau ke Kuala Lumpur tapi kok kejauhan. Naik bus saja perlu waktu 1 jam. Belum lagi ditambah waktu antrian imigrasi keluar & masuk yang tidak sebentar. Lagipula pagi-pagi begini masih banyak toko belum pada buka. Dan lagi hampir semua tempat touristy di Kuala Lumpur sudah pernah saya kunjungi semua. Jadi agak malas rasanya harus mengulang untuk kali kedua.

Di tengah kegalauan ini tercetuslah ide untuk jalan-jalan ke Putrajaya. Putrajaya merupakan sebuah kota administratif Malaysia seluas 5,000 hektar yang jaraknya 40 km dari Kuala Lumpur atau 30 km dari bandara KLIA-2. Karena baru dibangun tahun 1995, Putrajaya ini kotanya rapih dan teratur. Tidak tampak kabel listrik awut-awutan, tidak ada bangunan liar. Semua pembangunannya sudah dipikirkan dengan matang dan cermat.

Ada banyak sekali tempat menarik di Putrajaya, diantaranya:
  • Putrajaya Botanical Garden (taman botanical terbesar di Malaysia dengan luas 92 hektar dan koleksi 7,000 spesies tanaman)
  • Masjid Putra (mampu menampung hingga 15,000 jamaah)
  • Perdana Putra (Prime Minister's Office)
  • Astaka Morocco (bangunan bergaya Maroko yang dibangun atas kerjasama Pemerintah Malaysia dengan Pemerintah Maroko)
  • Dataran Putra (alun-alun tempat diadakan perayaan penting di Putrajaya, seperti parade kemerdekaan setiap bulan Agustus)
  • Palace of Justice (Istana Kehakiman)


DARI KLIA-2 KE PUTRAJAYA


Cara termudah menuju Putrajaya adalah dengan naik KLIA-Transit, lalu turun di stasiun Putrajaya. Harganya MYR 9.40 kalau berangkat dari KLIA-2 atau MYR 14,00 kalau dari KL Sentral. Tidak mahal-mahal amat. Lama perjalanan 18 menit dari KLIA-2 atau 20 menit dari KL Sentral. 

Setibanya di stasiun Putrajaya bisa langsung disambung naik Grab/taksi/bus umum menuju tempat wisata di Putrajaya. Karena keterbatasan waktu, saya hanya mengunjungi 3 tempat disana:

  1. Masjid Putra
  2. Perdana Putra (Prime Minister's Office)
  3. Astaka Morocco

MASJID PUTRA


Masjid Putra dibangun dengan arsitektur campuran antara Persia, Malaysia, dan Arab. Design minaret setinggi 116 m nya terinspirasi dari Masjid Syekh Omar di Baghdad dan dinding basemennya dibuat menyerupai Masjid King Hassan di Casablanca, Maroko. Dengan kubah ikoniknya yang bewarna pink, Masjid Putra ini sering dijadikan ikon dari Putrajaya dan juga gambar postcard.



PERDANA PUTRA (PRIME MINISTER'S OFFICE)


Siapa sangka bangunan unik 6 lantai dengan atap berbentuk bawang ini menjadi ruang kerja Perdana Mentri Malaysia. Kalau di Indonesia mungkin bisa disamakan seperti Istana Negara. Dibangun dari tahun 1997 hingga 1999, Perdana Putra ini kental akan arsitektur bergaya Islamic-Mogul. Letaknya persis di sebelah Masjid Putra dan dekat danau. Jadi biasanya Perdana Putra dan Masjid Putra dikunjungi bersamaan



ASTAKA MOROCCO


Salah satu bangunan "hidden gem" di Putrajaya karena keberadaan dan lokasinya belum banyak orang yang tahu. Sesuai namanya, Astaka Morocco ini didesain simetris di ke empat sisinya dengan detail dan ornamen khas Maroko. Sehingga membuat kita yang berkunjung kesana berasa sedang berada di Casablanca. Karena memang semirip itu. Kalau kesana jangan lupa mampir ke bagian tengahnya dimana terdapat sebuah air mancur spektakuler.




PUTRAJAYA KE KLIA-2


Setelah puas mengelilingi Astaka Morocco, saya lalu memesan Grab menuju Stasiun Putrajaya untuk kemudian naik kereta KLIA transit menuju KLIA-2. Total saya hanya memerlukan waktu sekitar 5 jam-an untuk perjalanan singkat di Putrajaya. Dari mulai mengantri keluar imigrasi, naik kereta KLIA transit menuju Putrajaya, lalu keliling Masjid Putra, Perdana Putra, dan Astaka Morocco, sampai balik lagi ke airport. Highly recommended lah kalau kebetulan sedang transit di KLIA minimal 6 jam. Daripada mati gaya di airport yakan?



Instagram : @williamkellye
https://www.instagram.com/williamkellye/

#Travel #Backpacking #Explore #Wanderlust #Destination #Williamkellye #KualaLumpur #Malaysia #Putrajaya

JALAN - JALAN DI SEOUL KOREA - PART 1

Kalau ditanya pilih Jepang atau Korea, saya pilih Jepang. Tapi kalau ditanya pilih Tokyo atau Seoul, jelas saya pilih Seoul! Saya bukan...