Sabtu, 15 Februari 2020

EURO TRIP 2016 - PART 2 : JALAN - JALAN DI KUALA LUMPUR DAN AMSTERDAM



DAY 0
10 JAM DI KUALA LUMPUR


Pesawat Airasia yang saya tumpangi mendarat mulus di bandara KLIA-2. Setelah urusan imigrasi dan pengambilan bagasi kelar saya langsung mencari bus bandara tujuan KL Sentral. Bus bandara di KLIA-2 memang sedikit kurang terawat. Tapi AC-nya dingin, kursinya nyaman, dan harganya murah meriah. Cukup membayar RM 12 untuk 1 jam perjalanan. Bandingkan jika naik kereta KLIA Express yang harganya RM 55 sekali jalan.

Karena penerbangan lanjutan Kuala Lumpur ke Amsterdam masih dini hari nanti maka diputuskan untuk menyewa hotel budget di daerah KL Sentral. Supaya bisa beristirahat, menyimpan koper, dan sekaligus tidur siang. Faktor kenyamanan menjadi poin penting dalam perjalanan kali ini karena saya pergi bersama ibu saya. Jadi sebisa mungkin kami tidak terlalu memaksakan diri dan capek. Untuk itinerary selama di Kuala Lumpur, kami hanya menghabiskan sore jalan-jalan santai di daerah Bukit Bintang sebelum lanjut makan malam di KLCC sambil foto-foto dengan latar Petronas Twin Tower.


TRANSIT DI ABU DHABI


Pukul 9 malam saya sudah berada di KL Sentral lagi untuk mengejar bus menuju bandara KLIA-1. Kemudian saya check in di Etihad Airlines dan menunggu pesawat tujuan Amsterdam dengan transit di Abu Dhabi.

Besar dan luas. Itulah impresi awal saya ketika tiba di Abu Dhabi International Airport. Bagaimana tidak, bandara terbesar kedua di UAE ini (setelah Dubai Int. Airport) memiliki luas 3,400 hektar serta melayani 24 juta penumpang setiap tahunnya. Sayangnya saat itu orang Indonesia perlu visa untuk masuk ke UAE. Karena waktu transit yang terbatas dan harga visa transit UAE yang tidak murah, saya memilih untuk tetap tinggal di bandaranya saja. Untungnya ada banyak toko disana yang lumayan menarik buat cuci mata.

SCHIPHOL AIRPORT


Tiba di Schiphol Airport, Belanda, tidak ada masalah berarti saat mengantri imigrasi. Saya hanya ditanya akan jalan-jalan di Eropa berapa lama dan dicek apakah sudah punya tiket balik ke Indonesia. Pengambilan bagasi pun lancar tidak ada drama.

Dari bandara Schiphol ada 3 cara menuju pusat kota, yaitu :

  • Menggunakan NS Train (harga EUR 4.2 + EUR 1 surcharge untuk disposable ticket, berhenti di Amstedam Central)
  • Naik bus no 197 (harga EUR 5, berhenti di Museumplein dan Leidseplein)
  • Naik GVB Bus no 69 (harga EUR 2.9, berhenti di Amsterdam Sloterdijk)

Karena saya traveling on budget tentu saya pilih opsi no 3 yang termurah dengan naik GBV Bus no 69. Setelah dihitung-hitung akan semakin hemat jika saya membeli tiket terusan 24 Hour GVB ticket seharga EUR 7.5. Bisa digunakan untuk pemakaian tidak terbatas naik bus, metro, dan tram GVB selama 24 jam setelah kartu diaktifkan. Artinya jika saya aktifkan kartunya sore ini pukul 16.00, saya masih bisa naik bus, metro, dan tram GBV hingga keesokan harinya paling lambat pukul 16.00.

Tiket terusan 24 Hour GBV ticket akan otomatis aktif pada saat pemakaian pertama (tap-in). Setiap akan turun dari bus/metro/tram kita diwajibkan untuk tap-out sebelum turun.



TRANSPORTASI DI AMSTERDAM


Sebetulnya tiket terusan 24 Hour GBV ticket seharga EUR 7.5 sudah cukup mumpuni kalau hanya sekedar jalan-jalan di dalam kota Amsterdam. Apabila ada rencana keluar kota seperti ke Zaanse Schans atau Volendam maka kita perlu membeli tambahan Amsterdam Region Ticket karena rute di luar kota Amsterdam tidak dilayani oleh perusahaan GBV. Harga Amsterdam Region Ticket ini EUR 13.5, berlaku 24 jam untuk pemakaian tidak terbatas alat transportasi milik perusahaan GBV, EBS, dan Connexxion sejak pertama kali diaktifkan.

Selain GBV ticket dan Amsterdam Region Ticket, ada juga kartu pintar lainnya seperti OV-chip yang mirip seperti octopus card di Hongkong atau EZ Link di Singapura. Namun setelah dihitung-hitung akan paling hemat jika menggunakan tiket terusan 24 Hour GBV Ticket selama berada di Amsterdam dan Amsterdam Region Ticket jika ingin berkunjung ke kota-kota sekitaran Amsterdam.

AKOMODASI DI AMSTERDAM


Agak PR untuk mencari akomodasi murah di Amsterdam tapi bukan hostel. Setelah menimbang-nimbang antara lokasi dan budget dapatlah titik temu di Easy Hotel Amsterdam (city center). Harga per malamnya IDR 1.5 juta, lumayan mahal memang. Untung hanya menginap 2 malam saja jadi tidak tekor terlalu banyak.

Yang paling saya suka dari hotel ini adalah lokasinya yang strategis. Dekat mana-mana dan dilalui 2 rute tram. Bonusnya lagi, hotel ini dekat dengan restoran Indonesia.

DAY 1MUSEUMPLEIN


Tidak banyak tempat yang saya kunjungi hari ini. Selain baru tiba di hotel lumayan sore, saya juga masih sedikit terasa jetlag akibat 3 penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur, Abu Dhabi, dan Amsterdam. Jadi agenda hari ini hanya berkunjung ke Museumplein.

Museumplein merupakan satu area dimana ada 3 museum dan concert hall Concertgebouw tumplek blek jadi satu. 3 museum itu terdiri dari Rijksmuseum atau Dutch National Museum yang didedikasikan untuk arts dan history. Lalu Van Gogh Museum yang menyimpan karya-karya dari pelukis Van Gogh sekaligus menjadi museum paling banyak dikunjungi di Belanda dengan total 2.3 juta kunjungan dalam 1 tahun. Terakhir Stedelijk Museum yang merupakan museum modern and contemporary art dengan arsitektur bangunan futureristik.



DAY 2ZAANSE SCHANS


Setelah kemarin hanya mengunjungi Museumplein, hari ini agendanya lumayan padat karena akan mengeksplor Amsterdam dan kota-kota disekitarnya dimulai dari Zaanse Schans. Zaanse Schans merupakan sebuah desa yang terkenal dengan kincir angin tradisionalnya. Bisa dicapai naik kereta atau naik Connexxion Bus no 391. Katanya sih kalau naik kereta bakalan jauh jalannya dari stasiun terdekat menuju Zaanse Schans (sekitar 1 km) jadi lebih baik naik bus kesana. Turun di halte terakhir, persis di depan Museum Zaanse Schans atau 5 menit berjalan kaki menuju gerbang desa.

Beberapa kincir angin di Zaanse Schans memang memasang tarif masuk tetapi beberapa lainnya bisa dimasuki secara gratis seperti kincir angin De Huisman. Di dalamnya kita bisa melihat beberapa mesin penggiling kuno yang masih beroperasi dan digerakkan secara manual oleh kincir angin.

Selain ada kincir angin konvensional, di Zaanse Schans juga terdapat rumah-rumah kayu kuno khas Belanda, museum shops menjual beragam souvenir, dan beberapa pabrik tradisional seperti pabrik keju dan pabrik liquor yang bisa dimasuki secara gratis.





VOLENDAM


Volendam sejatinya merupakan sebuah desa Nelayan yang bisa dicapai 30 menit naik bus no 316 dari Amsterdam Central. Dulunya penduduk Volendam berprofesi sebagai nelayan tradisional. Namun seiiring pembangunan bendungan di sekitar desa yang berdampak pada berkurangnya hasil tangkapan ikan maka mereka beralih profesi di sektor pariwisata.

Biasanya orang datang ke Volendam untuk berfoto ala Nyonya Meneer Belanda di studio foto yang banyak tersebar disana. Harganya EUR 20 untuk 2 orang, sudah termasuk foto hardcopy dan CD berisi softfile. Sehabis foto-foto bisa lanjut jalan-jalan di sekitar pelabuhan atau sekedar nongkrong di café sambil melihat barisan kapal hilir mudik.

Rumah-rumah di Volendam memiliki arsitektur khas yang berbeda dengan rumah kayu di Zaanse Schans atau tipikal bangunan di Amsterdam. Suasananya tenang dan sangat terasa nuansa pedesaan yang kental. Kalau mau membeli souvenir murah, sepertinya Volendam tempatnya. Soalnya saya kerap menemukan souvenir serupa dengan harga lebih murah dibandingkan di Amsterdam atau Zannse Schans.



BLOEMENMARKT & ALBERT CUYPSTRAAT


Setelah mengunjungi Zaanse Schans dan Volendam ternyata saya masih punya sisa waktu. Jadinya saya pergi ke pasar bunga terapung di Bloemenmarkt dan street market di Albert Cuypstraat. Untuk tiba di Bloemenmarkt, cukup naik tram nomor 16 dari Amsterdam Central turun di Muntplein, lalu dilanjut berjalan kaki 10 menit.

Selain menjual beragam jenis bunga, souvenir andalannya berupa benih bunga tulip yang dimasukkan ke dalam sepatu tradisional Belanda. Sebetulnya saya ingin membelinya, tapi takut disita di bandara karena masih harus singgah di beberapa negara sebelum balik ke Jakarta. Kalau saja Amsterdam pemberhentian terakhir, sudah pasti saya akan membawa pulang beberapa bungkus. Harganya juga tidak mahal-mahal amat.


Sedangkan Albert Cuypstraat bisa dicapai dengan naik tram nomor 16 turun di Albert Cuypstraat. Albert Albert Cuypstraat ini semacam jalanan yang disulap jadi street market seperti Ladies Market di Hongkong tapi dengan European Twist dan katanya paling besar seantero Amsterdam. Menjual berbagai macam barang mulai dari pakaian, kebutuhan rumah tangga, souvenir, sampai jajanan khas Belanda seperti waffle, poffertjes, herring broodjes dengan harga bersahabat. Jam bukanya dari pukul 09.00-17.00, Senin sampai Sabtu.



Karena hanya punya 1 hari penuh buat jalan-jalan di Amsterdam, saya cukup puas karena bisa mampir di banyak tempat dalam waktu terbatas. Memang masih belum sempat ke Edam, Marken, Keukenhof, dan Madurodam tapi tempat yang saya datangi cukup meninggalkan kesan “Belanda” mendalam. Semoga masih dapat berjumpa lagi di kemudian hari.


Cheers,

Instagram : @williamkellye
https://www.instagram.com/williamkellye/

#Europe #Travel #Backpacking #Explore #Wanderlust #Destination #Williamkellye #Paris #Amsterdam #Santorini #Rome #Athens


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JALAN - JALAN DI SEOUL KOREA - PART 1

Kalau ditanya pilih Jepang atau Korea, saya pilih Jepang. Tapi kalau ditanya pilih Tokyo atau Seoul, jelas saya pilih Seoul! Saya bukan...